Sabtu, 19 Januari 2013

Hukum Mencukur Rambut Bayi

Pertanyaan: “Bagaimana hukumnya mencukur rambut bayi dan apakah ada manfaatnya bagi kesehatan kepala bayi?”
Jawaban:

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Pada hari tujuh kelahiran dianjurkan untuk menggundul rambut kepala anak laki-laki, lalu menyedekahkan perak seberat rambut tersebut. Hal ini dilakukan jika memungkinkan, artinya jika ditemukan tukang cukur bayi yang mampu menggundul habis rambut kepala bayi tersebut. Akan tetapi jika tidak ditemukan tukang cukur bayi, lalu orangtua bayi tersebut mensedekahkan perak yang diperkirakan seberat rambut kepala bayi tersebut. Maka kami harap tindakan tersebut boleh-boleh saja. Meskipun sebenarnya menggundul rambut kepala bayi pada hari ini memiliki dampak yang positif bagi pertumbuhan rambut. Akan tetapi dimungkinkan kita tidak menemukan tukang cukur yang mampu menggundul habis rambut kepala bayi disebabkan pada hari itu gerak bayi tidak bisa dikendalikan. Boleh jadi bayi bergerak pada saat kepalanya digundul. Di samping itu, kepala bayi masih lembut sehingga dimungkinkan bisa terluka oleh pisau cukur. Oleh karena itu, jika kita tidak menemukan tukang cukur yang mampu menggundul para bayi maka diperbolehkan menyedekahkan perak seberat rambut kepala bayi yang kita ketahui dengan cara menaksir. (Lihat as-syarhu al-Mumti’ Jilid VII hal 540-541)

sumber : TEGAR DI ATAS SUNNAH

TANYA JAWAB RINGKAS

Buang Angin Terus-Menerus
Saya seorang wanita yang memiliki masalah dengan shalat. Terkadang saya harus berwudhu berkali-kali karena buang angin yang tidak bisa ditahan, apakah itu penyakit atau bukan? Saya sedih karena hal itu sering terjadi sehingga shalat tidak bisa tenang karena sering buang angin dan terkadang shalat belum selesai karena harus berkali-kali wudhu, sedangkan anak sedang menangis. Apa yang harus saya lakukan supaya shalat saya bisa khusyuk? Mohon jawaban dari ustadz. (Ummu Fulan)
Jawab :
Anda tidak perlu bersedih. Bersabarlah atas takdir Allah Subhanahu wata’ala. Hal itu adalah ujian bagi Anda yang harus dihadapi dengan kesabaran. Ada kemungkinan hal itu karena masuk angin. Cobalah atasi dengan menggunakan jaket dan kaos kaki serta ikhtiar-ikhtiar lainnya. Carilah waktu redanya buang angin itu untuk melaksanakan shalat di waktu itu. Selain itu, upayakanlah menenangkan anak Anda dengan memberinya makanan atau mainan, lalu Anda melaksanakan shalat agar dapat lebih khusyuk. Jika anak Anda menangis saat shalat, tidak mengapa mempercepat shalatnya. Sebab, pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami di masjid dan bermaksud memanjangkan shalat, tetapi mendengar suara tangis bayi di belakangnya, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mempercepat shalatnya. Wallahua ’lam. (al-Ustadz Muhammad as-Sarbini)
Tidur Sebelum Zhuhur, Bangun Waktu Ashar
Ustadz, saya mau tanya. Kalau kita ketiduran melewati waktu zhuhur kemudian baru bangun waktu ashar, terus shalat yang kita lakukan bagaimana tata caranya? Apakah boleh diringkas jadi
dua rakaat dua rakaat? Terima kasih. (timxxxx@yahoo.co.id)
Jawab :
Ketika Anda terbangun, maka langsung mengqadha shalat zhuhur tersebut empat rakaat, setelah itu baru shalat Ashar empat rakaat. Tidak boleh diqashar menjadi dua rakaat dua rakaat karena qashar khusus untuk musafir. (al-Ustadz Muhammad as-Sarbini)
Urutan Shalat Ketika Jamak Ta’khir
Saya mau bertanya tentang shalat yang dijamak ta’khir, seperti shalat maghrib dan isya. Urutan shalat yang dikerjakan pertama shalat apa dahulu? Kemudian masalah mandi janabah, bagaimana tata caranya menurut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Terima kasih. (Nusa)
Jawab :
  1. 1.    Sesuai urutan shalat : shalat zhuhur kemudian shalat ashar; shalat maghrib kemudian shalat isya.
  2. 2.    Tata cara mandi janabah menurut tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :
  • Berniat untuk mandi suci dalam kalbu.
  • Kemudian membaca basmalah.
  • Kemudian berwudhu dengan wudhu yang sempurna.
  • Kemudian mengguyurkan air di atas kepala dengan cidukan tangan (dan meratakannya di seluruh kulit kepala)
  • Setelah itu mengguyur kepala tiga kali; dimulai dengan mengguyur belahan kanan kepala kemudian belahan kiri, kemudian mengguyur pertengahan kepala.
  • Terakhir, mengguyur sekujur tubuh yang tersisa; dimulai dengan belahan kanan tubuh, kemudian yang kiri. Wallahu a’lam.
(al-Ustadz Muhammad as-Sarbini)

Jumat, 18 Januari 2013

JANGAN BERSEDIH

Dalam kehidupan, pasti akan ada yang berubah maupun yang bertambah. Entah tambahan itu apakah suatu hal yang menyenangkan ataukah hal yang menyedihkan. Banyak hal yang terjadi menjadi sebuah penyesalan bahkan awal dari alasan sebuah kesedihan yang tiada akhir.
Namun ketika kita tidak berusaha mencari alasan-alasan yang baik dari sebuah penderitaan yang kita alami, seakan-akan kesedihan yang kita alami menjadikan kita sebagai orang yang terburuk keadaannya. Sudahkah kita belajar untuk melihat ke bawah?
Ya benar.
Melihat ke bawah.
Ternyata ada saja yang masih harus kita syukuri dari banyaknya kesedihan yang kita alami. Terkadang sulit untuk kita mencari jawaban mengapa suatu musibah justru terjadi pada diri kita sendiri. Kenapa bukan orang lain? Kenapa bukan orang yang bergembira itu? Kenapa bukan orang yang selalu bahagia itu?
Tapi tidakkah kita sadari bahwa kita hanya melihat dari sudut pandang mata kita. Bagaimana dengan Allah yang Maha Melihat dan Maha Bijaksana.
Tidak kita sadari semua, bahwa sudut pandang kita begitu sempit dan sangat sempit. Allah melihat dari segala sudut yang tidak akan pernah dapat dijangkau oleh manusia. Bukankah kitapun manusia, milik Dia Yang Maha Kuasa.
Berhakkah sebenarnya kita protes? Padahal kita adalah milik-Nya.
Sebuah pertanyaan yang tentu kita tau jawabannya.
Berusahalah merenung dengan pertanyaan-pertanyaan itu.  Berusahalah untuk mencari jawaban positif dari pertanyaan-pertanyaan itu.
Suatu ketika, ada seorang melaporkan kepada Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Abu Darda’ radliallahu ‘anhu pernah mengatakan: “Fakir itu lebih aku cintai dari pada kaya dan sakit lebih aku sukai dari pada sehat.” Setelah mendengar laporan ini, Hasan mengatakan, “Semoga Allah mengampuni Abu Darda’, adapun yang benar, saya katakan:
من اتكل على حسن اختيار الله له لم يتمن غير الحالة التي اختار الله له
Barangsiapa yang bersandar kepada pilihan terbaik yang Allah berikan untuknya, dia tidak akan berangan-angan selain keadaan yang pilihkan untuknya.” (Kanzul Ummal, Ali bin Hisamuddin al-Hindi)
Entahlah, seakan-akan manusia terus berusaha melawan kodratnya.  Hingga ia tenggelam dengan permasalahanya sendiri yang tiada habisnya.
Lalu lupakah kita tentang hakikat sebenarnya kita diciptakan?
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون
” Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”(QS. Adzariyat :56)
Jadi ketika pena diangkat dan catatan takdir telah kering, haruskah kita protes?
Menjalani dengan penuh tawakal dan berusaha menunaikan kewajiban, mungkin adalah obatnya. Daripada berkubang dengan kesedihan yang kita masih belum tau apakah hikmahnya.
بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
” Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah:112)
Jika Engkau seorang yang bertauhid, untuk apa bersedih, untuk apa mengeluh, untuk sesuatu yang sebenarnya akan engkau jalani.
Percayalah, bukankah Allah tidak akan membebani seseorang diluar kesanggupannya?
Pertanyaan ini adalah hal yang harus engkau renungi. Agar engkau yakin, semua pasti bisa engkau lewati dengan baik. Karena percayalah selalu,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6)
” Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5 – 6)
Jadi, untuk apa engkau bersedih lagi.
Tersenyumlah untuk dunia yang akan engakau jalani.
Itulah satu cara untuk mengurangi kesedihanmu, yang insya Allah akan berlalu dan akan diselingi kebahagiaan kembali.
Percayalah Allah sayang padamu.
***
artikel muslimah.or.id
Penyusun: Wikayatu Diny
Murajaah: Ust Ammi
Nur Baits

Kamis, 17 Januari 2013

Aku bersyukur menjadi IBU...

Bismillahirrahmanirrahim,

Menjadi jadi ibu itu dulu aku pikir adalah pekerjaan yang sederhana, tinggal mengurus anak, rumah dan suami. Tapi ternyata seiring berjalannnya waktu( kurang lebih 7th menjadi ibu) itu adalah pekerjaan paling berat yang pernah aku jalani. Meski demikian ini jg sekaligus pekerjaan paling menyenangkan.

Sebagai ibu aku dituntut untuk bisa memasak, membersihkan rumah, menjaga, mencari nafkah juga utk membantu swami. Kalau ditulis satu persatu mungkin tidak muat. Tapi ada beberapa hal yang mungkin dilupakan sebagian ibu-ibu, bahwa menjadi ibu itu juga memerlukan teori atau pengetahuan yng cukup sebelum kita menjalani. Tidak bisa hanya mengandalkan naluri keibuan. Sayangnya, jarang sekali ada seminar parenting di tempatku, dan kalaupun ada pasti pesertanya hanyalah ibu-ibu saja. Padahal seharusnya mereka2 yang belum jadi ibu juga wajib tahu. Sehingga pada saat mereka jadi ibu sudah tahu rambu2 atau pengetahuan tentang parenting.

Begitulah pekerjaan ini begitu penuh tantangan dan melelahkan serta mengasyikkan. Pada saat usia Batita aku begitu harap harap cemas dengan pekembangan fisiknya, saat balita mulai sibuk memperkenalkan alat-alat tulis dan buku sampai-sampai harus seperti anak-anak lagi. Dan menginjak usia 7 tahun sekarang ini sebagai ibu harus lebih kritis lagi ikut memikirkan pelajaran pelajaran sekolahnya, mencemaskan akidah akhlaknya, mengkhawatirkan siapa dan bagaimana teman-temannya. Ya Allah ini lebih rumit lagi.

Harapanku semoga kelak mereka tumbuh menjadi anak sholeh sholihah tentunya. Walaupun aku harus keluar biaya lebih untuk sekolah si sulung karena jarak sekolah cukup jauh, tapi pendidikan yang murah dan berkualitas tetap jadi prioritasku untuk mereka belajar. aku kuarng setuju dengan pendidikan yang sedikit dikit uang atau pendidikan yang mengabaikan pelajaran agama islamnya walaupun lebih murah. Bagiku pendidikan agama itu sangat penting diatas pendidikan umum. Dan pilihanku jatuh pada MI dibawah yayasan Banu Ibrahim.

Sedangkan untuk si kecil Aisyah ternyata mengasuhnya juga tak kalah seru dengan kakaknya, tapi kali ini sepertinya aku lebih siap untuk menjadi ibu. Mungkin karena sudah punya pengalaman mengasuh sebelumnya. Ditambah informasi dan pengetahuan tentang parenting sangat mudah aku dapat di internet. Dan saat-saat paling mendebarkan bagiku adlah saat pemberian vaksin atau imunisasi. Jujur aku masih takut dengan dampak buruk imunisasi walaupun persentase gagalnya masih jauh lbih sedikit dibanding manfaatnya. Tapi tetap saja aku merasa deg-degan, karena kenyataannya juga masih banyak orang yang menentang imunisasi. Aku hanya bisa berdoa semoga semua baik baik saja. Karena memang sulit bagiku untuk menolaknya. Dan sekarang pemberian vaksinnya sudah lengkap dari posyandu.

Fase demi fase telah kujalani sampai saat ini, aku begitu menikmati mengasuhnya sambil bekerja di rumah. Aku sangat bersyukur bisa bekerja tanpa meninggalkan anak-anak. Walaupun aku tidak punya kantor atau instansi seperti layaknya para pekerja atau mungkin tidak punya seragam keren tapi toh aku masih punya income. Sejak aku sadar bahwa  menjadi ibu itu  adalah tugas UTAMA ku , aku tidak lagi tertarik dengan kerennya pekerjaan di luar rumah. Justru aku akan merasa rugi kalau aku harus kehilangan moment paling berharga yaitu mendampingi tumbuh kembang mereka. Dan kalaupun aku ingin berwiraswasta sepertinya juga banyak peluang untuk itu. Tapi aku harus berfikir 2 kali untuk menambah kesibukanku. Karena kadang uang tak seberapa bila dibandingkan dengan tugas utama ini. Mungkin keinginan ini harus aku tunda dulu sampai 5 atau 10 tahun lagi. Semoga Allah masih memberikan peluang itu untukku.

Begitulah menjadi ibu sangat menyenangkan dan kurasa tidak ada pekerjaan wanita yang lebih mulia dari ini. Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini. Dan tentunya semua ini juga butuh dukungan para ayah agar istrinya bisa menjadi ibu sejati. Jangan biarkan para ibu yang justru harus menjadi tulang punggung keluarga, sampai-sampai harus menjadi TKW keluar negeri. Para suami juga harus lebih kreatif dan tidak malas mencari nafkah, agar faktor ekonomi tak jadi alasan para ibu untuk meninggalkan tugasnya.  Semangat semangat.... terus ibu.... aku membutuhkan kehadiranmu lebih dari hadiah-hadiahmu......